Semarak Kuliah Umum Memerangi Ideologi Pro Kekerasan

Sebanyak 2.000 mahasiswa memadati Auditorium Prof. Dr. Harun Nasution UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Sabtu (13/4/2013). Mereka ingin mengikuti kuliah umum bertema “Pakistani Youth Role in Preventing Pro-Violence Ideology” dari Dr. Hussain Mohi-Ud-Din Qadri, seorang tokoh muda penggerak kerja-kerja sosial organisasi Islam di Pakistan Minhaj-ul-Quran Internasional (MQI).

Kuliah umum diselenggarakan Lazuardi Birru bekerjasama dengan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan 14 organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan. Kuliah umum kemitraan ini merupakan yang kedua kalinya. Sebelumnya, Lazuardi Birru dan UIN Jakarta mengadakan kegiatan serupa dengan menghadirkan Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siradj beberapa waktu lalu.

Sebelum memasuki auditorium, para mahasiswa membubuhkan tanda tangan untuk menolak segala bentuk kekerasan, terutama kekerasan mengatasnamakan agama di kain putih sepanjang 5 meter. Mereka sangat antusias dan berebut untuk dapat menorehkan tanda tangan menolak kekerasan.

Setelah menorehkan tanda tangan, para peserta memasuki auditorium untuk mengikuti kuliah umum. Menjelang acara pembukaan kuliah umum, para mahasiswa dihibur dengan sejumlah penampilan di antaranya marawis dari Hiqma dan tari-tarian dari siswa TK Ketilang UIN Jakarta.

Acara kuliah umum pun dimulai. Dalam sambutannya, Ketua Lazuardi Birru Dhyah Madya mengharapkan generasi muda dapat menjadikan perbedaan pandangan keagamaan, visi dan misi kehidupan berbangsa sebagai kekuatan yang mampu menyatukan mereka di dalam perdamaian, toleransi dan harmoni.

“Setelah kegiatan ini, diharapkan generasi muda Indonesia mendapat pencerahan dan dapat belajar dari perjuangan Pakistan dalam memerangi ideologi pro-kekerasan,” ujarnya.

Dalam kuliah umum, Dr. Hussain Mohi-ud-Din Qadri membahas mengenai fenomena kekerasan atas nama agama yang terjadi di Pakistan secara rinci, mengidentifikasi faktor-faktor yang memicu pertumbuhannya di Pakistan, dan keterkaitan dalam konteks global. Selain itu, beliau juga berbagi cerita dalam mengatasi berkembangnya fenomena kekerasan tersebut dan peran organisasi Islam MQI untuk melakukan dialog sehingga tercipta keharmonisan di Pakistan maupun di luar negeri.

Seusai tanya jawab kuliah umum, ribuan mahasiswa diajak memainkan alat musik khas Jawa Barat yaitu angklung yang dipandu oleh tim Saung Mang Udjo. Para mahasiswa diajarkan memainkan angklung secara bersama-sama sehingga menghasilkan harmoni nada yang indah. Harmoni nada tersebut untuk menginspirasi generasi muda dalam membangun bangsa bersama-sama tanpa kekerasan.

Para mahasiswa merasa senang mengikuti acara ini. Hasyim Asy’ari, mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah mengaku sangat tertarik untuk menghadiri acara tersebut. Menurut dia kuliah umum ini sangat bagus, menarik dan menggugah hatinya. “Pesertanya luar bisa sampai membludak,” ujarnya.

Yayah Durotul Gholiyah, mahasiswa Fakultas Psikologi berkata “Acaranya sangat bagus, mahasiswa sangat antusias hingga melebihi kapasitas gedung.”[as]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *