Sidang Istimewa MPR Memutuskan Melengserkan KH. Abdurrahman Wahid dari Kursi Kepresidenan RI ke-4

Periode kepemimpinan KH. Abdurrahman Wahid( Gus Dur) yang diawali semenjak tahun 1999 dipadati dengan bermacam- macam trik- intrik serta polemik politik. Gus Dur terus berseteru dengan bermacam pihak, paling utama dengan DPR/ MPR RI. Pada pertemuan dengan rektor- rektor universitas pada 27 Januari 2001, Gus Dur melaporkan mungkin Indonesia masuk ke dalam anarkisme. Dia kemudian menganjurkan pembubaran DPR bila perihal tersebut terjalin.

Pada 1 Februari 2001, DPR mengadakan persidangan buat menghasilkan nota terhadap Gus Dur yang berisi usulan diadakannya Persidangan Spesial MPR di mana pemakzulan Presiden bisa dicoba. Di tingkat pangkal rumput massa pendukung serta penolak Gus Dur terus melakukan show of force. Sejak Maret 2001, Gus Dur mencopot sebagian menteri di kabinetnya sebab pelbagai alibi.

Pada 30 April 2001, DPR menghasilkan nota kedua serta memohon diadakannya Persidangan Istimewa MPR. Kesimpulannya pada 20 Juli 2001, Pimpinan MPR RI Amien Rais melaporkan kalau Persidangan Istimewa MPR hendak dimajukan pada 23 Juli. Tentara Nasional Indonesia(TNI) merendahkan 40. 000 tentara di Jakarta serta pula merendahkan tank yang menunjuk ke arah Istana Negeri selaku wujud oposisi terhadap Presiden.

Gus Dur setelah itu mengumumkan pemberlakuan dekret yang berisi( 1) pembubaran MPR/ DPR,( 2) mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat dengan memesatkan pemilu dalam waktu satu tahun, serta( 3) membekukan Partai Golkar[59] selaku wujud perlawanan terhadap Persidangan Istimewa MPR. Tetapi dekret tersebut tidak mendapatkan sokongan, sampai pada 23 Juli, MPR secara formal memakzulkan Gus Dur serta menggantikannya dengan Megawati Sukarnoputri.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *